15 Sep 2014

Jogja, You Are Too Kind! (5) | Edisi : USDEK, Suguhan pada Resepsi Pernikahan Jawa


Kembali lagi dengan postingan baru tentang Jogja. Duh, sedih saya karena lama banget yak jeda antara (4) dan (5)?  Tapi tidak apa. Akan ada hal-hal yang bisa diceritakan dan tidak di Jogja. So, here they are :D

Dua minggu yang lalu, tanggal 31 Agustus 2014, saya bersama kawan-kawan sejurusan bertandang ke Kabupaten Karanganyar untuk menghadiri acara pernikahan teman sekelas di kuliah. Sangat bersemangat sekali saya saat itu, Alhamdulillah banget ikut merasa senang ada kawan sekelas yang menikah. Tidak ada yang terpikir sebenarnya untuk menceritakan perjalanan kami. Tapi sesuatu yang belum pernah aku lihat, yakni kultur berbeda-lah yang ingin kutulis disini, budaya yang di kampung halaman, Malang, tidak kutemukan. Kultur dalam penyambutan tamu di upacara pernikahan ala Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Waktu acara di undangan tertera pukul 09.30 pagi hingga pukul 13.00. Sebagian dari kami (utamanya yang berasal dari Jawa Timur) sih berpikir kalau resepsi macam begitu datang terlambat tidak masalah, berbeda pendapat dengan kawan yang berasal dari Jogja asli. Menurutnya, kami harus datang tepat waktu, berjaga-jaga kalau model penyambutan tamu undangannya ala “USDEK” kata dia.

Tertawalah aku. Model yang bagaimana sih USDEK? Hahahaha..penasaran.

Begitu sampai di lokasi, kami beruntung karena acara belum dimulai. Sehingga kami bisa mengikuti prosesi hingga selesai. Benar juga kawan yang berkata bahwa prosesi ini akan menggunakan adat USDEK, pukul 10.00 kami tiba, semua undangan nampaknya sudah datang. Kursi-kursi yang diletakkan didepan halaman sudah penuh. Nah lho, beginikah?

Tempat duduk sudah hampir penuh, hingga kami akhirnya kebagian tempat duduk ditenda/terop yang dipasang halaman tetangga dari pengantin. Kami tetap bisa menikmati rangkaian acara karena dekat tempat kami duduk dipasang televisi yang menyiarkan secara langsung prosesi didalam rumah.

USDEK adalah singkatan dari rangkaian makanan suguhan dalam prosesi pernikahan ala Jawa.

Eh tapi, sepertinya kok yang dimaksud Jawa disini adalah daerah Jawa Tengah dan Yogya yang masih memegang teguh tradisi kental ajaran keratonnya ya. Karena dirumah dan dimanapun di Jawa Timur (sepengetahuanku) kami tidak pernah melaksanakan prosesi macam ini.

Huruf “U” dari USDEK berarti Unjukan. Unjukan adalah bahasa jawa untuk “Minuman”. Begitu kami tiba di tempat duduk, dihadapan kami telah disediakan Unjukan berupa teh manis. Seperti yang tampak pada gambar.

"U" untuk Unjukan
Selang setengah jam, setelah penganten duduk di “kursi kebesaran”, tahap dua dari USDEK, yakni snack and soup. Snack atau jajan adalah yang dibagi pertama. Kami dapat dua macam jajan, semacam spiku dan sosis solo.

Tahap "S" untuk Snack dari USDEK

Selang 15 menit, sop pun dibagikan pada undangan. Kalau tidak salah namanya sup matahari. Enak banget :9
Rasanya mau nambah nambah, hahaha…


Super Delicious Soup named "Sup Matahari", tahap "S" dari USDEK
Super Delicious Soup named "Sup Matahari"


Tahap ketiga dari USDEK adalah Daharan, yang berarti Makanan. Sungguh unik sajian yang kami terima. Nasinya dibentuk sedemikian rupa hingga mengingatkanku pada salah satu jajan pasar yang kami namai “Putu Ayu”.


Main Dish on USDEK, "D" stand for Daharan

Selang 20 menit, undangan kembali dibagikan tahapan –hampir- akhir dari USDEK yakni huruf “E” yang adalah Es Krim. Makan eskrim beginian nih, yang sekarang udah jarang banget kutemui dikota-kota. Lagi-lagi..enaaakk :9


"E" dari USDEK itu untuk Eskrim


Tahap terakhir dari USDEK adalah huruf “K”-nya yang berarti Kondur. Kondur dalam bahasa berarti Pulang. Pulang dengan perut yang super duper full, dan tentunya buatku adalah ide nulis blog yang kuilustrasikan dengan senyum-senyum sepanjang acara, hehehehe.
Tapi tidak lengkap rasanya kalau kami belum berfoto bersama penganten yang jadi empunya acara. Inilah kami… taraaaaaaaa!!

Barakallah Faizal, dan Istri. Semoga yang lain cepet nyusul, aamiin (*eh)

Eh waktu prosesi ceramah oleh ulama, Pak Kyai berpesan "Duren Duren, Roti, Roti. Biyen yo Biyen, Saiki yo Saiki" yang arti bahasa-nya: Lain dulu lain sekarang, jangan disamakan. 
Kurang lebih begitu sih. Hahaa menohok sekali buung!

Sekian bagi-bagi postingan dan pengalamanku. Seru banget perjalanan ke Karanganyar kemaren.
Dapet pengalaman baru, dan inilah..postingan baru. Hwehehehe.

Ofcourse, Jogja you are too kind for me :D (*as always)
Posting Komentar