23 Okt 2012

BOROBUDUR, The Greatest Budha Heritage Site

Setelah sekian lama tidak update soal postingan jalan-jalan dan melulu soal "galau", akhirnya kuberanikan diri untuk kembali menulis tema jalan-jalan. Hahaha.

Awalnya kupanjatkan syukur se syukur-syukurnya. Pokoknya bersyukur sekali dianugerahi sekolah lagi di Yogyakarta, yang artinya aku bakal sering jalan-jalan menikmati keindahan dan kekayaan alam di daerah multikultural ini. Dahulu waktu pertama kali tahu kalau aku bakal stay disini untuk beberapa lama (setidaknya yang tertulis di perjanjian beasiswa, 1.5tahun) aku sudah mulai merencanakan untuk mengunjungi situs-situs kerajaan, candi, peninggalan-peninggalan yang lokasinya bertebaran di wilayah DIY dan Jawa Tengah, dan itu menyenangkan.. I'm so exciting!

Tadi seharian aku mengunjungi situs ternama yang telah menjadi warisan dunia nomor 592 (UNESCO World Heritage List Number 1991, given on 1991) yaitu candi Borobudur.

Kucuplik dari situs wikipedia, Borobudur adalah nama sebuah candi religius Budha yang lokasinya berada di Magelang. Jarak dari Kota Yogyakarta kurang lebih 35 hingga 40 km yang kutempuh dengan bersepeda selama kurang lebih 1 jam.

Borobudur berbentuk stupa, menurut sejarahnya bangunan ini didirikan oleh para religius Budha Mahayana pada tahun 800 M saat Raja Syailendra berkuasa. Bangunannya terdiri atas enam teras kotak atau bujur sangkar dengan latar melingkar diatasnya, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 relief. Menurut wikipedia juga, stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna. Sayang karena tingkah laku wisatawan serta pihak-pihak yang kurang bertanggungjawab, kepala Buddha banyak yang hilang. Kini apabila kita kesana, sudah tidak lagi diperbolehkan untuk memanjat stupa, duduk di tatakan relief, maupun berlama-lama disana meskipun bukan hari libur. Wisatawan domestik maksimal berada di situs paling lama 10 menit, bergantian dengan wisatawan yang lain. Semakin tidak menyenangkan. Hiks..

larangan ini diletakkan di banyak tempat, mengantisipasi wisatawan yang melanggar tanpa sepengetahuan petugas 
hari biasapun banyak anak-anak sekolah yang berkunjung ke Candi Borobudur seusai pelajaran 
Monumen megaaahh nan indah ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai lokasi ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.
Waktu aku kesini, ada sekelompok peziarah sedang berdoa di sisi Timur, sayang aku tidak mengabadikan gambar mereka berdoa bersama. Mereka tampak bernyanyi dalam irama senada dengan khusyuk, tidak terganggu oleh banyaknya wisatawan yang lewat.
Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan yang dimaksud antara lain Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.

Oh iya, ketika masuk ke kawasan wisata, pengunjung dewasa diwajibkan menggunakan selempang batik lho. Kalau kata petugas sih untuk melestarikan budaya batik. Yahh kupakai saja karena bagus. He he he. Petugas berjaga di pintu masuk kawasan dan membagikan pinjaman batik, yang nanti dikembalikan sekeluarnya kita dari kawasan Candi Borobudur.

wisatawan dewasa wajib mengenakan selempang batik ini, domestik maupun mancanegara 
Kalau kuingat-ingat, sudah bertahun lamanya aku tidak mengunjungi Candi Borobudur ini. 5 atau 7 tahunan. Mungkin karena letaknya yang jauh dari kampung halaman, dan juga tidak ada acara mendesak yang membawaku ke situs ini. Sudah banyak hal yang berubah semenjak aku terakhir kesini. Diantaranya penggunaan batik selempang, larangan memanjat, memegang patung didalam stupa dan duduk di situs. Disebabkan penurunan kualitas yang drastis sekali semenjak kunjungan terakhirku dulu. Sangat amat kusayangkan, karena pihak tak bertanggungjawab kita tak bisa melestarikan cagar budaya kita yang bentuk seperti ini hanya terdapat satu-satunya didunia, di ujung Magelang yang asri. Pemandangannya masih sangat indah, gunung dan perbukitan yang mengelilingi Borobudur masih ada. Gunung Sumbing juga masih kokoh disana.

Kabar yang kudengar, Borobudur telah berhasil ditetapkan sebagai Candi Budha terbesar didunia menurut Guinnes Book Of Record. Selamat ya! (sumber)


pemandangan di sekitar Candi Borobudur, sayang gunung-gunung yang berada di sisi sebaliknya dari gambar yang sedang kuambil ini tertutup awan jadi tak bisa kuabadikan
Mari kita bayangkan. Sayang sekali apabila nanti kita mengenalkan ke anak cucu kita hanya bisa memandang Borobudur dari kejauhan kan? Sekarang untunngnya kita hanya dilarang untuk memegang patung Buddha, naik stupa, memanjat batunya. Kalau nanti?

Yuk siapapun yang membaca postinganku ini, ayo lestarikan budaya dan cagar budaya kita.
Apa mau, kita hanya memberikan cerita ke anak cucu tanpa ada bukti?

Sekian postingan kali ini. Ayo jalan-jalan lagi! Siapa mau ikut?

Posting Komentar