27 Agt 2012

Dari Hidup

belajar adalah kata yang tepat agar tidak tercipta penyesalan..
saat kau gagal, apakah yang akan jadi pembelaanmu?
bukankah belajar...yang membuat lutut kembali berdiri, dan berjalan lagi?
pernah sekali, aku terluka dibagian dalam sini oleh pisau yang tak kasat mata, bernama pengkhianatan.
iya.. pengkhianatan atas perasaan. pantaslah kalau lukanya didalam, beruntung tidak dan atau bukan diluar..
maka aku menyimpulkan..
luka ini ada, agar tak melukai..
sakit ini diciptakan, agar didepan nanti tak lagi tersakiti.. atau bahkan menyakiti.
dari hidup ak belajar berjalan.. terbantu oleh orang2 sekeliling..
dari hidup aku belajar memperbaiki masa depan.. berusaha tidak mengulang kesalahan.
kehilangan adalah hal menyakitkan, tidak bisa dihindari.. tapi kita bisa belajar agar membentengi diri dari kehilangan hal-hal yang kita jaga selama ini...
bukan saatnya untuk berbohong,
hidup cuma sekali..egoislah. tapi seperlunya.
bukankah bohongpun ada titik jenuhnya?

4 Agt 2012

Perjalanan Baru

Ada yang terlupakan dari langkah-langkahnya kemarin. Dia belum berterimakasih pada semua yang memapahnya berjalan mengarungi umur dan mungkin, sisa umur ini. Tuhan cukup tahu dia telah menghabiskan air tangis dan serta merta bersujud mensyukuri apa yang diberikanNya selama ini untuk jadi anugerah dan harta. Dia Sang Maha tidak menuntut balas, hanya menurunkan firman agar segala yang berjalan dihadapan adalah jalan yang telah ditentukan olehNya. Menjalani sesuai dengan petunjuk. Penemuan harta karun bernama jati diri.
Beberapa hal hingga titik ini masih belum bisa diperbaikinya. Sedikit banyak, membuat dia yang rapuh jauh didalam belum dapat berjalan dengan tangan dan kaki ini sendirian. Belum mandiri. Belum cukup berani untuk menyelesaikan segala hal sendiri. Mantap melangkah, namun dengan bantuan. Mantap melangkah, namun dengan pertanyaan yang dijawab bukan oleh kata hatinya. Dia sungguh-sungguh butuh bantuan.
Semakin kesini, semakin dekat dengan perpisahan. Serasa dirinya yang terlalu sok kuat makin terjepit oleh waktu. Terjepit oleh batas yang tidak dapat dia pahami. Antara sebagian ketakutan, sebagian rindu. Tak sedetikpun dia tak pernah tahu kapan benar-benar berakhir.
Terkadang dia sendiri yang membuatnya rumit, karena mengulang masalah di waktu lalu, dan dibesar-besarkan. Apa yang seharusnya terlupakan, kembali menjadi topik utama di kepalanya yang kecil itu. Lebih banyak penyesalan mengakibatkan otaknya sedikit "sakit". Sakit tanpa sebab serta jalan penyelesaian abu-abu yang terpendam sendiri.
Semakin sering tiba-tiba hatinya menjadi sedih. Selalu saat menunggu matahari tenggelam, bersamaan dengan dirinya yang mencoba menenggelamkan diri pada ketakutan yang....entah bagaimana menjelaskan?
Sesaat menerka, mereka selalu mencoba menyimpulkan sesuatu dari tulisan-tulisannya yang tersebar di penjuru sudut kota. Banyak dari mereka mengetahui dan mencoba mengerti untaian ungkapannya namun tak pernah sepenuhnya mengerti apa yang dia inginkan. Lalu frustasi datang menghantui pikirannya, mungkinkah aku perlu terbuka pada dunia? Mungkinkah aku perlu melakukan suatu perubahan di kehidupan nyataku? agar mereka tidak terus menerus menerka apa yang kumaksud.. Terus dan terus dipikirkannya.
Sedikit merasa sering bersalah pada kepalanya, dia mencoba untuk berlalu. Namun tak lama, dia kembali lagi. Duduk termenung bersama seorang tua bertongkat, yang disebutnya dengan Sang Kebijaksanaan Tua. Bertopang dagu saling terdiam satu sama lain. Berdua membiarkan waktu yang berbicara.
Sang Bijak menyetujui dan berkata, "biar waktu yang bicara.. kodratmu memantaskan diri saat menunggu.."